sandeq

sandeq

Thursday, October 6, 2016

SEJARAH PERAHU SANDEQ DAN NILAI YANG TERKANDUNGNYA

1. Asal-Usul
Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara
Hasil gambar untuk SANDEQyang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival) dan membangun kebudayaannya. Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul "Manusia Bugis" (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang)
Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar
Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu sehingga sekilas terkesan rapuh. Namun jika membaca sejarahnya, akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter, dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting kapal, dan bodi-bodi

Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon)pada musim ikan terbang bertelur(motangnga)Menurut Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dansecepat Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh,Sandeq mampu mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan. Para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga ke Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar (Kompas Online, 7 September 2007) Sayang, perkembangan zaman nampaknya kurang berpihak kepada kelestarian Perahu Sandeq. Pada tahun 1990-an, masyarakat Mandar mulai tergoda untuk menggunakan perahu yang menggunakan tehnologi modern, baik karena alasan efektivitas pencarian ikan maupun kemudahan dalam mengoperasikannya Akhirnya, sedikit demi sedikit perahu tradisional ini mulai ditinggalkan. Melihat kondisi tersebut, pada tahun 1995 HorstH Liebner mengadakanperlombaan Perahu Sandeq dengan tujuaan untuk melestarikan dan meneruskan warisan budaya


2. Peralatan dan Bahan

Bahan utama untuk membuat Perahu Sandeq adalah pohon Kanduruang Mamea ang telah cukup tua
sehingga selain kuat juga mempunyai diameter yang cukup lebar. Adapun peralatan yang digunakan
untuk membuat Perahu Sandeq terbagai menjadi dua yaitu peralatan saat pencarian bahan dan saat
Hasil gambar untuk pembuatan SANDEQpembuatan perahu: Pada saat pencarian bahan. Peralatan yang dibutuhkan dalam pencarian bahan Sandeq di antaranya adalah: kampak besar, cangkul kayu, dan parang. Seiring perkembangan zaman,
peralatan untuk menyiapkan bahan juga semakin modern yaitu menggunakan passenso (mesin pemotong kayu). Pada saat pembuatan perahu. Dalam proses pembuatannya, peralatan yang dibutuhkan di
antaranya adalah: ketam kayu, gergaji, bor, dan lain-lain. Dengan memperhatikan kedua proporsi alat di atas, dapat diketahui bahwa pembuatan perahu ini
dikerjakan oleh dua ahli, yaitu ahli kayu yang bekerja di tengah hutan, dan ahli perahu pannita lopi yang bekerja di pesisir


3. Waktu Pembuatan

Dalam pembuatan Perahu Sandeq, penentuan waktu untuk memulai pembuatan perahu (penyediaan
bahan sangat vital. Artinya, untuk memulai pembuatan perahu ini harus dipilih waktu baik dan
menghindari waktu buruk. Untuk menentukan waktu baik, biasanya dilakukan dengan menggunakan
rumusan rumusan kuno (potika). Waktu yang dianggap baik untuk memotong pohon adalah pada
bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Adapun waktu untuk melakukan
pemotongan kayu adalah ketika matahari menanjak naik (pagi hari), dan ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan sebaga "ussul sebuah pengharapan agar perahu yang dibuat "rezekinya naik, lajunya kencang Muhammad Ridwan Alimuddin, 2007

4. Tata laksana
Secara garis besar, pembuatan Perahu Sandeq terdiri dari empat tahap
yaitu: tahap mempersiapkan
alat, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu (balakang), dan pembuatan perahu. Tata laksana
pembuatan Perahu Sandeq sepenuhnya diolah dari tulisan Muhammad Ridwan Alimuddin (2007).


5. Nilai-nilai

Perahu Sandeq tidak sekedar warisan nenek moyang masyarakat Mandar, tapi ia adalah
pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Oleh karenanya, jika dikaji secara seksama,
akan diketahui bahwa di dalam perahu tersebut terkandung nilai-nila
luhur yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat Mandar. Adapun nilai-nilai tersebut di antaranya adalah:
Pertama, nilai religious. Pembuatan Perahu Sandeq merupakan
salah satu bentuk ekspresi pola
keberagamaan masyarakat Mandar. Kepercayaan kepada hal-hal gaib yang menguasai suatu tempat,
melahirkan pola keberagamaan yang unik. Permohonan ijin kepada penghuni pohon, baik dengan
membawa makanan yang diletakkan di bawah pohon maupun dengan membaca doa-doa dan
Hasil gambar untuk nilai  SANDEQmembaca mantra, merupakan bentuk dari religiousitas orang Mandar. Keunikan pola keberagamaan
orang Mandar juga dapat dilihat dari
aneka macam ritual yang senantiasa dilakukan selama
pembuatan perahu dan ketika Perahu Sandeq hendak dibawa melaut. Bagi para pengkaji
keberagamaan masyarakat loka
religiositas orang Mandar nampaknya dapat menjadi bahan kajian
yang cukup menantang
Kedua, nilai budaya. Keberadaan Perahu Sandeq merupakan hasil dari cara orang-orang Mandar
merespon kondisi alam di mana mereka tinggal. Rintangan dan tantangan dari selat Mandar yang
cukup dalam dan berarus deras, disikapi oleh masyarakat dengan
membuat perahu lancip
menggunakan layar berbentuk segitiga dengan ditambahi cadik pada kanan-kirinya. Hasilnya, sebuah
perahu yang tidak saja mampu membelah lautan yang cukup ganas dengan stabil, tetapi juga melaju
dengan kencang dan berlayar hingga ke mancanegara

No comments:

Post a Comment