sandeq

sandeq

Friday, October 7, 2016

RAJA TO'DILALING (RAJA BALANIPA)

Hasil gambar untuk todilaling
Todilaling adalah seorang raja yang pernah memerintah di daerah Polewali Mandar,
Sulawesi Barat, Indonesia. Ia adalah putra Raja Balanipa yang selamat dari ancaman pembunuhan ayahnya. Raja Balanipa terkenal memiliki tabiat yang aneh, yaitu tidak mau mempunyai anak laki-laki. Setiap kali
permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki, ia langsung membunuhnya. Mengapa Raja Balanipa tidak mau mempunyai anak laki-laki? Lalu, bagaimana To Dilaling dapat selamat dari ancaman pembunuhan
ayahnya hingga ia dapat menjadi raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita /Panglima To Dilaling/ berikut ini. 
** * ** 

Hasil gambar untuk todilalingAlkisah, di sebuah bukit yang bernama Napo di daerah Tammajarra, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Balanipa yang dipimpin oleh Raja Balanipa. Sudah tiga puluh tahun sang Raja berkuasa, namun tidak mau turun dari tahtanya. Ia ingin berkuasa sepanjang masa. Untuk itu, ia senantiasa menjaga kesehatan badannya dengan cara berolahraga secara teratur, berburu, minum jamu dan obat ramuan tabib terkenal agar tetap awet muda dan panjang umur.
Raja Balanipa memiliki empat orang anak, dua putra dan dua putri. Akan tetapi, kedua putranya sudah dibunuhnya, karena ia tidak mau mewariskan tahtanya kepada mereka. Sementara sang Permaisuri selalu merasa cemas jika sedang mengandung. Jangan-jangan anak yang dikandungnya itu seorang bayi laki-laki. Ia sudah tidak kuat lagi melihat anaknya dibunuh oleh suaminya sendiri. Ia pun selalu berdoa kepada Tuhan, agar anak yang dikandungnya kelak adalah bayi perempuan.
Pada suatu waktu, sang Permaisuri sedang hamil besar. Ketika itu, Raja Balanipa hendak pergi berburu di daerah Mosso. Sebelum berangkat, sang Raja berpesan kepada panglima perangnya yang bernama Puang Mosso.
"Puang Mosso! Tolong jaga Permaisuriku yang sedang hamil besar itu!
Jika aku belum kembali dan ia melahirkan anak laki-laki, maka bunuhlah anak itu!" titah Raja Balanipa.
"Baik, Baginda! Segala perintah Baginda pasti hamba laksanakan," jawab Puang Mosso sambil memberi hormat.
Setelah itu, berangkatlah Raja Balanipa ke Mosso. Keesokan harinya, sang Permaisuri pun melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Namun anehnya, lidah bayi itu berwarna hitam dan berbulu.

Mengetahui permaisuri melahirkan, anjing pengawal raja segera menjilati kain bekas persalinan, sehingga meninggalkan darah di moncongnya. Kemudian anjing itu segera mencari sang Raja yang sedang berburu di daerah Mosso. Setelah menemukan tuannya, anjing itu terus menggonggong untuk memperlihatkan darah di moncongnya. Sang Raja yang mengerti jika permaisurinya telah melahirkan segera kembali ke istana.

Sementara itu, Puang Mosso sedang dilanda kebingungan setelah mengetahui sang Permaisuri melahirkan bayi laki-laki. Ia merasa kasihan dan tidak tega membunuh bayi itu. Sesaat ia berpikir keras untuk mencari cara agar sang Raja tidak murka dan bayi laki-laki itu tetap hidup.
"Mmm, aku tahu caranya. Aku akan menyembelih seekor kambing dan aku kuburkan, lalu membuatkan nisan di atas kuburannya, sehingga sang Raja akan mengira bahwa isi kuburan itu adalah putranya," pikir Puang Mosso lalu segera melaksanakan niatnya itu.
Oleh karena khawatir rahasianya diketahui sang Raja, Puang Mosso menitipkan bayi itu kepada keluarganya yang tinggal di sebuah kampung yang berada jauh dari istana.

Keesokan harinya, Raja Balanipa kembali dari berburu dan langsung menemui Puang Mosso.
"Bagaimana keadaan Permaisuri, Apakah ia sudah melahirkan?" tanya sang Raja.
"Ampun, Baginda! Sehari setelah Baginda berangkat, Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Sesuai dengan pesan Baginda, hamba sudah menyembelih dan menguburkan bayi itu," jelas Puang Mosso.
"Di mana kamu kuburkan?" tanya sang Raja.
"Ampun, Baginda! Hamba menguburnya di samping kuburan putra Baginda yang lainnya,? jawab Puang Mosso.

Raja Balanipa belum yakin jika belum melihat langsung kuburan itu. Ia pun segera ke tempat perkuburan keluarga istana, dan tampaklah sebuah kuburan kecil yang masih baru. Sang Raja pun percaya bahwa bayi laki-lakinya sudah mati. Ia pun kembali menjalankan tugasnya sebagai raja dengan perasaan tenang, karena pewaris tahtanya sudah tidak ada lagi.

Waktu terus berjalan. Putra raja yang tinggal di sebuah kampung sudah besar. Dia sudah lancar berbicara dan mengenal orang-orang di sekelilingnya. Ia juga sangat akrab dengan Puang Mosso, karena hampir setiap minggu Puang Mosso membesuknya secara diam-diam. Oleh karena khawatir rahasianya diketahui oleh sang Raja, Puang Mosso menitipkan anak itu kepada seorang pedagang yang akan berlayar menuju Pulau Salemo yang berada jauh dari bukit Napo.

Di Pulau Salemo, putra raja itu tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia diasuh dan dididik oleh keluarga pedagang yang membawanya ke tempat itu. Ia sangat tekun bekerja dan mahir memanjat pohon kelapa.

Pada suatu hari, ketika ia sedang memanjat pohon kelapa, tiba-tiba seekor burung rajawali raksasa menyambarnya, lalu membawanya terbang ke tempat yang jauh. Ketika sampai di daerah Gowa, anak itu terlepas dari cengkeraman rajawali raksasa sehingga terjatuh di tengah sawah dan ditemukan oleh seorang petani. Si petani pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Gowa, Tumaparissi Kalonna.
"Ampun, Baginda! Hamba menemukan seorang anak laki-laki berbaju merah di tengah sawah yang terlepas dari cengkeraman seekor burung rajawali raksasa."

"Di mana anak itu sekarang?" tanya Raja Gowa.
"Ada di rumah hamba, Baginda!" jawab petani itu.
"Pak Tani! Bawa anak itu kemari, aku ingin melihatnya!" titah Raja Gowa.

Mendengar perintah sang Raja, petani itu segera menjemput anak itu di rumahnya. Beberapa lama kemudian, petani itu sudah kembali ke istana bersama dengan anak itu. Ketika sang Raja melihat dan mengamati anak itu, ia langsung tertarik melihat tubuh anak itu.

"Waaah, kekar sekali tubuh anak ini! Jika anak ini aku rawat dan didik dengan baik, kelak ia akan menjadi pemuda yang gagah perkasa," pikir Raja Gowa.

"Hei, anak kecil! Kamu siapa dan dari mana asalmu?"tanya Raja Gowa.

Putra Raja Balanipa itu menceritakan asal-usulnya hingga ia dapat sampai di tempat itu. Sang Raja menjadi terharu mendengar cerita anak itu. Akhirnya, Raja Gowa merawat dan mendidiknya hingga menjadi pemuda gagah perkasa dan sakti. Kemudian ia mengangkatnya menjadi panglima perang(tobarani) Kerajaan Gowa. Sejak putra Raja Balanipa itu menjadi panglima perang, pasukan Kerajaan Gowa selalu menang dalam peperangan. Panglima perang Kerajaan Gowa itu pun terkenal hingga ke berbagai negeri. Raja Gowa kemudian memberinya gelar I Manyambungi.

Sementara itu, di Kerajaan Balanipa, kondisi keamanan sedang kacau-balau. Rupanya Raja Balanipa yang merupakan ayah kandung Panglima I Manyambungi telah wafat dan digantikan oleh Raja Lego yang terkenal sakti. Raja tersebut sangat kejam dan bengis. Ia suka menganiaya rakyat, baik yang berada di wilayah kekuasaannya maupun yang berada di negeri sekitarnya, yaitu negeri Samsundu, Mosso dan Todang-Todang.
Hal itu membuat raja-raja negeri bawahannya menjadi resah dan benci kepadanya. Untuk mengatasi hal itu, mereka pun mengadakan musyawarah untuk mencari cara menyingkirkan Raja Lego.

"Bagaimana caranya menyingkirkan Raja Lego yang kejam itu?" tanya salah seorang raja.

"Saya mendengar kabar bahwa Kerajaan Gowa memiliki seorang panglima perang yang sakti bernama I Manyambungi. Barangkali kita dapat meminta bantuannya untuk melawan Raja Lego," jawab seorang raja yang lain.

Para raja negeri bawahan itu pun bersepakat untuk mengundang Panglima I Manyambungi. Maka diutuslah beberapa perwakilan dari kerajaan-kerajaan bawahan ke Kerajaan Gowa. Sesampainya di Gowa, mereka pun segera menemui panglima sakti itu dan mengutarakan maksud kedatangan mereka.

"Maaf, Tuan! Kami adalah utusan dari kerajaan-kerajaan kecil di daerah Polewali Mandar. Maksud kedatangan kami adalah ingin meminta bantuan Tuan untuk melawan Raja Lego," lapor seorang utusan.

"Siapa Raja Lego itu?" tanya I Manyambungi.

"Dia adalah penguasa Kerajaan Balanipa yang menggantikan Raja Balanipa. Ia sangat kejam, suka menganiaya rakyat kami yang tidak berdosa," jelas salah seorang utusan.

I Manyambungi sangat terkejut saat mendengar jawaban itu. Ia jadi teringat dengan ayah dan keluarganya yang pernah diceritakan oleh Puang Mosso kepadanya semasa ia masih kecil.

"Bagaimana dengan Raja Balanipa dan keluarga istana lainnya?" tanya I Manyambungi penasaran.

" Raja Balanipa dan permaisurinya telah wafat. Sementara beberapa keluarga istana lainnya sedang mengungsi ke daerah Mosso.? jelas utusan itu.

"Bagaimana dengan Panglima Puang Mosso? Apakah ia masih hidup?" tanya I Manyambungi.

"Iya, Tuan! Dia masih hidup. Bahkan dialah yang telah menyelamatkan sebagian keluarga istana. Bagaimana Tuan dapat mengenal Puang Mosso?" tanya salah seorang utusan heran.

Panglima I Manyambungi pun menceritakan perihal asal-usulnya. Para utusan dari Mandar itu pun terkejut dan segera memberi hormat.

"Ampun, Tuan! Sungguh kami tidak mengetahui jika Tuan adalah putra Raja Balanipa," kata utusan serentak.

"Baiklah! Aku akan memenuhi permintaan kalian, tapi dengan syarat Puang Mosso yang harus datang sendiri menjemputku," pesan Panglima I Manyambungi.

"Baik, Tuan! Kami akan menyampaikan berita ini kepada Puang Mosso" jawab para utusan seraya berpamitan kembali ke Mandar.

Sesampai di Mandar, mereka segera menemui Puang Mosso. Mendengar laporan para utusan itu, Puang Mosso menjadi cemas. Oleh karena penasaran, Puang Mosso berlayar sendiri ke Gowa dengan hati berdebar-debar. Dalam perjalanan, ia selalu bertanya-tanya dalam hati.

"Siapa sebenarnya I Manyambungi itu. Kenapa harus aku yang menjemputnya? Jangan-jangan dia adalah putra Raja Balanipa yang pernah aku titipkan kepada seorang pedagang?"

Sesampainya di Gowa, Puang Mosso segera menghadap Panglima I Manyambungi. Saat berada di hadapan panglima yang sakti itu, hati Puang Mosso semakin berdebar kencang. Lain halnya dengan I Manyambungi yang selalu tersenyum sambil menatap Puang Mosso dengan mata berkaca-kaca. Puang Mosso bukanlah sosok yang asing di mata I Manyambungi.

"Benarkah Anda Puang Mosso?" tanya I Manyambungi.

"Benar, Tuan!" jawab Puang Mosso.

"Maafkan hamba Tuan! Maukah Tuan menjulurkan lidah sebentar?" Puang Mosso balik bertanya kepada I Manyambungi dengan perasaan ragu-ragu.

Ketika melihat lidah I Manyambungi berwarna hitam dan berbulu, maka semakin yakinlah Puang Mosso jika panglima itu adalah putra Raja Balanipa. Tanpa berpikir panjang, Puang Mosso segera memeluknya dengan erat sambil berkata:

"Benar, engkaulah putra Raja Balanipa."

I Manyambungi pun membalas pelukan Puang Mosso sambil meneteskan air mata,  lalu berkata:

"Iya, Puang Mosso! Terima kasih karena engkau telah menyelamatkan nyawaku dan merawatku semasa aku masih kecil."

"Sudahlah, Tuan! Kita harus segera ke daerah Mandar untuk menyelamatkan warga yang tidak berdosa dan merebut kembali Kerajaan Napo dari tangan Raja Lego yang bengis dan kejam itu," ujar Puang Mosso.

"Baik, Puang Mosso! Kita berangkat saat tengah malam agar tidak ketahuanoleh Raja Gowa. Jika mengetahui hal ini, beliau pasti akan melarangku pergi,"kata I Manyambungi.

Pada saat tengah malam, Puang Masso dan Panglima I Manyambungi beserta beberapa pengikutnya meninggalkan istana Kerajaan Gowa. Setelah beberapa hari berlayar, kapal mereka pun merapat di pelabuhan Tangnga-tangnga. Semua peralatan perang mereka turunkan dari kapal dan kemudian membawanya ke bukit Napo. Sejak itu, Panglima I Manyambungi dikenal dengan nama Panglima To Dilaling.

Sementara itu, Raja Lego semakin kejam terhadap rakyat yang lemah. Segala keinginannya harus segera dipenuhi. Jika ia menginginkan harta atau pun gadis untuk dikawini, tidak seorang pun yang dapat menghalanginya. Akibatnya, seluruh warga menjadi resah dan semakin benci kepadanya. Maka, pada saat Panglima To Dilaling mengajak para warga untuk memerangi Raja Lego, mereka menyambutnya dengan senang hati dan penuh semangat.

Pada waktu yang telah ditentukan, Panglima To Dilaling beserta seluruh warga menyerbu istana Raja Lego. Pertempuran sengit pun tidak didapat dihindari lagi. Pada mulanya, pasukan Raja Lego dapat mengadakan
perlawanan. Namun , karena jumlah mereka lebih sedikit daripada pasukan Panglima To Dilaling, akhirnya mereka pun menyerah.

Sementara itu, Raja Lego yang dihadapi langsung oleh Panglima To Dilaling masih mampu melakukan perlawanan. Keduanya saling mengadu kesaktian. Tidak berapa lama kemudian, Raja Lego akhirnya kalah juga dan mati di ujung badik Panglima To Dilaling. Seluruh warga menyambut kemenangan itu dengan gembira. Akhirnya, Panglima To Dilaling dinobatkan menjadi raja di bukit Napo. Selama masa pemerintahan Panglima To Dilaling, negeri Napo dan sekitarnya menjadi aman, makmur dan sentosa. Hingga kini, makam Panglima To Dilaling dapat disaksikan di bawah sebuah pohon beringin yang rindang yang berada di atas bukit Napo, Polewali Mandar. 

** * **
Demikian ceritaPanglima To Dilaling dari daerah Sulawesi Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu sifat suka lupa diri sendiri dan sifat sombong atau angkuh.

Pertama, sifat suka lupa diri. Sifat lupa diri yang dimaksud di sini adalah bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, semua makhluk pasti akan mati. Sifat ini tercermin pada sifat dan perilaku Raja Balanipa yang ingin berkuasa sepanjang masa. Ia merasa bahwa dirinya akan hidup selama-lamanya, sehingga tidak mau mewariskan tahtanya kepada putranya.
Kedua, sifat sombong atau angkuh yang tercermin pada perilaku Raja Lego. Dengan kekuasaan dan kesaktiannya, ia suka menindas rakyat yang lemah. Pelajaran yang dapat dipetik dari sifat dan perilaku Raja Lego ini adalah bahwa hendaknya kita tidak bersikap menyombongkan diri dengan kekuasaan dan kekuatan yang kita miliki, karena suatu saat kekuasaan dan kekuatan itu pasti akan binasa juga. Dikatakan alam tunjuk ajar Melayu:
kalau hidup melagakkan kuasa,

alamat hidup menanggung siksa
bila hidup melagakkan pangkat,

lambat laun ditimpa laknat


Thursday, October 6, 2016

MAKANAN KHAS SULAWESI BARAT

ASSALAMUALAIKUM PARA PECINTA KULINER INDONESIA


kalian pasti udah bnyak mencoba masakan dari jawa, sumatra dan masakan khas makassar.
Namun sudahkah  kalian mencoba makanan khas tetangga sulawesi selatan yaitu dareah sulawesi barat...... ya ternyata di daerah ini juga memliki makanan khas  suku MANDAR, apa saja itu ini dia ......







1. Apang

Apang adalah kue khas Mandar, Sulawesi Barat, berbentuk persegi tiga. Warnanya coklat, karena berbahan dasar gula aren. Apang terdiri atas tepung beras yang dikukus di atas cetakan. Dulu, kue ini biasanya dicampur dengan tuak manis agar adonannya bisa mengembang sempurna. Tapi sekarang, kebanyakan adonan diolah dengan baking powder.

Apang
Apang ditaburi parutan kelapa muda sehingga empuk di lidah. Cocok untuk disantap bersama kopi di pagi hari. Kue ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional Sulawesi Barat.

2. Paso

Di Mandar terdapat kue tradisional bernama Paso. Dalam bahasa Mandar, Paso berarti paku. Disebut kue Paso karena ujungnya sama-sama lancip. Kue ini menjadi favorit karena rasanya yang luar biasa.

Kua Paso terbuat dari tepung beras, dicampur gula aren cair, serta santan. Adonan kue lalu dimasukkan ke cetakan dari daun pisang yang sudah dibentuk seperti topi ulang tahun. Kue lantas dikukus di dalam panci yang sudah dipasangi penyangga yang biasanya dibikin dari batang pisang.

Paso
Jadi, adonan itu jangan sampai penuh di dalam cetakan. Karena setelah adonan kue itu matang, kita mesti menuang santan kental ke atasnya. Jangan lupa ya, untuk menambah garam ke dalam santan agar rasanya makin mantap. Sayang, penjual jajanan ini sudah mulai jarang ditemukan di Sulbar.

3. Bolu Paranggi

Bolu Paranggi serupa mangkok mungil seukuran kepalan tangan balita. Kulit kue ini merekah, menandakan Bolu Paranggi yang berbahan dasar terigu begitu empuk dan lembut di mulut. Belum lagi sensasi legit di lidah yang berasal dari gula aren, yang jadi salah satu bahan penyusun adonan.

Bolu Paranggi diolah di atas cetakan yang dipanaskan dengan bara. Umumnya, kue khas ini banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional Mandar dan warung yang berjejer di sepanjang tepi jalan Sulawesi Barat. Cocok untuk kudapan sore hari, ditemani secangkir kopi tubruk panas.

4. Kue Kui-Kui

Kue buroncong sudah cukup terkenal. Sekilas, kue ini mirip pukis tapi dengan bentuk yang lebih panjang. Buroncong sangat mudah ditemukan di seantero Sulawesi. Namun di Mandar, kue mirip buroncong disebut kui-kui.

Kue Kui-Kui
Kui-kui terbuat dari tepung beras yang dicampur dengan gula merah dan parutan kelapa muda. Sama seperti membuat buroncong, kue ini pun dituang ke dalam cetakan yang lebih dulu dipanaskan dengan bara. Penasaran rasanya? Jelajahi saja pasar-pasar tradisional Sulbar, dan kita akan menemukan kui-kui di sana.

5. Roti Pawa

Roti Pawa berbentuk bulat pipih dan berwarna kuning gading. Roti ini dibikin dari olahan terigu dan tepung beras. Yang unik, kita akan menemukan kejutan berupa kacang halus bercampur gula merah dan gula pasir, yang “bersembunyi” di balik daging roti. Kue ini dimasak dengan cara dikukus, lalu ditiriskan di atas daun pisang yang dibentuk mengikuti bentuk roti. 

6. Cucur

Bila berkunjung ke gelaran pernikahan atau khitanan di Sulbar, Anda akan menemukan kue bulat pipih berwarna coklat di antara sajian pesta. Itu karena kue ini menjadi menu wajib di antara sesajian yang biasa disiapkan masyarakat Sulbar dalam acara khusus tersebut.

Namanya cucur. Penganan ini terbuat dari tepung beras dan gula merah yang digoreng dengan minyak kelapa khas Mandar. Tepung biasanya dicampur dengan gula aren yang dihaluskan, kemudian diaduk hingga rata. Adonan lantas dimasukkan ke wajan menggunakan sendok sayur agar hasilnyaberbentuk bulat.

7. Tetu 

Tetu yang biasanya jadi menu berbuka puasa ini disajikan dengan alas daun pandan berbentuk persegi. Bahan utamanya adalah terigu yang dicampur dengan gula merah dan gula pasir secukupnya. 

Tetu
Adonan itu lalu diaduk dengan santan yang encer, untuk menambah rasa gurih. Setelahnya, adonan tetu dikukus di dalam panci hingga matang. Jangan lupa, adonannya jangan sampai memenuhi cetakan daun pandan, ya. Karena di atas adonan itu kita mesti menuangkan lagi santan yang lebih kental, dicampur sedikit garam.

8. Bikang

Bisa dibilang, serabi adalah salah satu kue favorit warga Indonesia. Kita bisa menemukan serabi di berbagai pelosok Nusantara, termasuk di Sulbar. Biasanya di Sulbar, serabi disebut bikang.

Bikang
Bikang yang bisa kita jumpai di pasar-pasar tradisional Sulbar diolah dari tepung beras. Adonan itu kemudian dituang ke dalam cetakan tanah liat yang berbentuk bulat seperti pizza. Setelah matang, kue dibentuk segitiga, lalu dituangi lelehan gula aren. 

Semoga dengan adanya postingan/artikel ini, kita bisa mengenal beranekamacam khas makanan/kue di setiap suku/budaya yang berbeda. Walaupun kita berbeda tetapi kita tetap satu (Bhineka Tunggal Ika).

TEMPAT WISATA SULAWESI BARAT

ASSALAMUALAIKUM BRO

KALIAN PARA PECINTA PETUALANGAN DAN MENCARI TEMPAT WISATA ??

Tempat Wisata di Sulawesi Barat – Resmi menjadi provinsi ke – 33 pada 5 Oktober 2004, dan beibukota di Mamuju, Sulawesi Barat tak luput dari pandangan para traveller untuk menikmati kekayaan alam dan budaya disana. Ragam suku yang mendiami provinsi pemekaran Sulawesi Selatan ini diantaranya Bugis, Makassar, Toraja dan yang paling besar; Mandar. Orang Mandar terkenal sebagai pelaut yang ulung dan handal,sehingga beragam kuliner Sulawesi Barat berasal dari makanan laut.

Ragam kuliner, suku, budaya dan tempat wisata di Sulawesi Barat akan kami ulas pada postingan berikut. Jika menemukan warga berbondong-bondong ke masjid dengan membawa balasuji, sejenis wadah dari bambu berbentuk persegi panjang, dengan berbagai macam makanan di dalamnya, maka Anda akan menyaksikan Wisata Budaya Sayyang Pattudu. Dilaksanakan setiap bulan Maulid, acara untuk merayakan syukuran atas khatam Al Quran ini juga diramaikan dengan anak-anak yang menunggang kuda berhias. Ritual ini menjadi sangat istimewa karena kebiasaan orang Mandar yang yang sering mengkhatamkan Al Quran sejak kecil.

Ada satu Wisata Budaya tahunan seru yang wajib ditonton, Sandeq Race di lepas pantai Mamuju. Ya, di pantai Mamuju inilah start passandeq menunjukkan kepiawaiannya mengatur kemampuan manuver, membaca arus, arah angin, dengan masih mengikutkan ritual didalamnya. Menempuh jarak 300 mil laut sampai Makassar, passandeq atau awak kapal diharuskan memutari area berbatas 3 titik. 

1. Dato Majene


Berjarak 7 KM atau 15 menit menggunakan kendaraan pribadi dari kota Majene, kunjungi Wisata Alam Pantai Dato Majene. Keunikan dari pantai berpasir putih dan berkarang ini menambah keindahan pantai Dato yang terkenal berair jernih. Snorkling pun bisa dilakukan, atau sekedar memancing ikan atau menikmati sunset di balik bukit.









2. Pantai Lombang Lombang Mamuju



Tempat wisata di Sulawesi Barat berikutnya ada di Mamuju,Pantai Lombang Lombang. Berjarak 30 KM dari Mamuju, pantai ini memiliki keindahan senja hari dengan iringan debur ombak, eksotisnya pasir hitam halus dan pohon bakau. Pengunjung disuguhkan beberapa fasilitas gazebo, snorkling dan diving, serta olahraga voli pantai. Cocok bagi wisatawan yang hendak mengahabiskan liburan akhir pekan setelah penat menjalankan aktifitas.



3,  Pantai Manakarra
Pantai ManakarraAnjungan Pantai Manakarra selalu 
ramai pengunjung baik sore maupun malam hari. Keindahan pantai dengan anjungan unik dihiasi gong perdamaian dan miniatur perahu Sandeq khas orang Mandar, membuat Pantai Manakarra menjadi salah satu tempat wisata di Sulawesi Barat teramai di jantung kota Mamuju.



4. Pulau Karampuang

Pantai Manakarra
Tempat wisata di Sulawesi Barat dengan fasilitas snorkling dan diving lainnya adalah Pulau Karampuang, seberang pantai Kota Mamuju. Tidak perlu diragukan, tempat wisata di Sulawesi Barat ini terkenal dengan kejernihan air dengan terumbu karang nan eskotis dan beragam ikan kecil meliuk-liuk beraneka warna.

5. Pantai Batu Raja
Hasil gambar untuk Pantai Batu Raja sulbar
Pantai Batu Raja berada di Desa Bukit Samang, Kecamatan Sendana. Sangat mudah menemukan Pantai Batu Raja Apoang ini. Perjalanan menuju Majene, kabupaten di Sulawesi Barat, melalui Mamuju, biasanya akan melewati jalan raya di tepian Pantai Batu Raja Apoang. Kab Majene memiliki kontur geografis yang unik, lokasinya yang berada di bagian barat provinsi Sulawesi Barat membuat satu sisinya dibatasi sepenuhnya oleh laut, Kab. Majene punya segala alasan untuk menjadi destinasi wisata pantai yang memukau. Pantai dan laut merupakan keniscayaan di Majene

 6  Pantai Palippis
Pantai Palippis
Salah satu obyek wisata alam yang terletak di Polewali, Mandar Provinsi Sulawesi Barat adalah Pantai Palippis, Pantai Palippis dikenal dengan keindahan panorama alam laut yang sangat eksotis. Pantai Palippis berada di jalan poros Provinsi Sulawesi Barat, lebih tepatnya di Desa Bala Kecamatan Balanipa atau sekitar 20 Km dari ibu kota Kabupaten Polewali Mandar, tidak hanya hamparan pasir putih yang memanjang, di sepanjang pantai juga tampak keindahan alam perbukitan serta batu karang dengan tebing dan goa alam di Lawuang yang memanjang dan bersambung dengan pantai Palippis (kurang lebih sepanjang tiga kilo meter), di kawasan ini dapat juga ditemukan tebing karang yang menyerupai ngarai,  gua kelelawar yang  terletak di atas bukit yang membentang tidak jauh dari bibir pantai semakin menambah keindahan pesona Pantai Palippis.

SEJARAH PERAHU SANDEQ DAN NILAI YANG TERKANDUNGNYA

1. Asal-Usul
Suku Mandar adalah satu-satunya suku bahari di Nusantara
Hasil gambar untuk SANDEQyang secara geografis berhadapan langsung dengan laut dalam. Lautan dalam merupakan halaman rumah-rumah mereka. Begitu mereka bangun dari tidur, mereka akan disapa oleh gemuruh air laut dan dibelai oleh angin laut. Kondisi alam mengajarkan kepada masyarakat Mandar bagaimana beradaptasi untuk mempertahankan hidup meminjam bahasa Durkheim, struggle for survival) dan membangun kebudayaannya. Melaut bagi suku Mandar merupakan penyatuan diri dengan laut. Laut menjadi tempat mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membangun identitasnya. Mencari penghidupan di laut (sebagai nelayan) bukanlah pekerjaan sembarangan bagi orang Mandar. Mereka tahu betul bagaimana beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di laut. Oleh karenanya, benar apa yang dikatakan Chistian Pelras dalam bukunya yang berjudul "Manusia Bugis" (2006), bahwa orang-orang Mandar merupakan pelaut ulung. Mereka tidak akan bisa hilang dan tersesat di lautan Interaksi masyarakat Mandar dengan lautan menghasilkan pola pengetahuan yang berhubungan dengan laut, yaitu: berlayar (paissangang asumombalang), kelautan (paissangang aposasiang), keperahuan (paissangang paalopiang), dan kegaiban (paissangang)
Pengejawantahan dari pengetahuan tersebut di antaranya adalah rumpon atau roppong dan Perahu Sandeq. Rumpon merupakan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan yang diciptakan oleh para pelaut Mandar
Perangkap ini terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Sedangkan Perahu Sandeq merupakan perahu layar bercadik yang khas Mandar, ramah lingkungan, dan tercepat di kawasan Austronesia Perahu khas Mandar ini terbuat dari kayu sehingga sekilas terkesan rapuh. Namun jika membaca sejarahnya, akan diketahui bahwa perahu yang terkesan rapuh itu mampu dengan lincah mengarungi lautan luas. Panjang lambungnya 7-11 meter dengan lebar 60-80 sentimeter, dan di kiri-kanannya dipasang cadik dari bambu sebagai penyeimbang. Untuk berlayar, perahu tradisional ini mengandalkan dorongan angin yang ditangkap dengan layar berbentuk segitiga. Layar itu mampu mendorong Sandeq hingga berkecepatan 20 knot. Kecepatan maksimum melebihi laju perahu motor seperti katinting kapal, dan bodi-bodi

Sandeq juga sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang saat mengejar kawanan ikan tuna Para pembuat Sandeq dengan cermat merancang perahu yang tangguh untuk memburu kawanan ikan khususnya untuk mengejar kawanan ikan tuna yang sedang bermigrasi. Oleh karenanya, perahu yang dibuat harus bisa melaju cepat. Perahu ini juga digunakan para nelayan untuk memasang perangkap (rumpon)pada musim ikan terbang bertelur(motangnga)Menurut Horst H Liebner, peneliti Sandeq asal Jerman, tidak ada perahu tradisional yang sekuat dansecepat Sandeq. Perahu tradisional ini merupakan yang tercepat di Austronesia. Meski kelihatan rapuh,Sandeq mampu mengarungi laut lepas Selat Makassar antara Sulawesi dan Kalimantan. Para nelayan Mandar juga biasa berburu rempah-rempah hingga ke Ternate dan Tidore untuk dibawa ke bandar Makassar (Kompas Online, 7 September 2007) Sayang, perkembangan zaman nampaknya kurang berpihak kepada kelestarian Perahu Sandeq. Pada tahun 1990-an, masyarakat Mandar mulai tergoda untuk menggunakan perahu yang menggunakan tehnologi modern, baik karena alasan efektivitas pencarian ikan maupun kemudahan dalam mengoperasikannya Akhirnya, sedikit demi sedikit perahu tradisional ini mulai ditinggalkan. Melihat kondisi tersebut, pada tahun 1995 HorstH Liebner mengadakanperlombaan Perahu Sandeq dengan tujuaan untuk melestarikan dan meneruskan warisan budaya


2. Peralatan dan Bahan

Bahan utama untuk membuat Perahu Sandeq adalah pohon Kanduruang Mamea ang telah cukup tua
sehingga selain kuat juga mempunyai diameter yang cukup lebar. Adapun peralatan yang digunakan
untuk membuat Perahu Sandeq terbagai menjadi dua yaitu peralatan saat pencarian bahan dan saat
Hasil gambar untuk pembuatan SANDEQpembuatan perahu: Pada saat pencarian bahan. Peralatan yang dibutuhkan dalam pencarian bahan Sandeq di antaranya adalah: kampak besar, cangkul kayu, dan parang. Seiring perkembangan zaman,
peralatan untuk menyiapkan bahan juga semakin modern yaitu menggunakan passenso (mesin pemotong kayu). Pada saat pembuatan perahu. Dalam proses pembuatannya, peralatan yang dibutuhkan di
antaranya adalah: ketam kayu, gergaji, bor, dan lain-lain. Dengan memperhatikan kedua proporsi alat di atas, dapat diketahui bahwa pembuatan perahu ini
dikerjakan oleh dua ahli, yaitu ahli kayu yang bekerja di tengah hutan, dan ahli perahu pannita lopi yang bekerja di pesisir


3. Waktu Pembuatan

Dalam pembuatan Perahu Sandeq, penentuan waktu untuk memulai pembuatan perahu (penyediaan
bahan sangat vital. Artinya, untuk memulai pembuatan perahu ini harus dipilih waktu baik dan
menghindari waktu buruk. Untuk menentukan waktu baik, biasanya dilakukan dengan menggunakan
rumusan rumusan kuno (potika). Waktu yang dianggap baik untuk memotong pohon adalah pada
bulan purnama, atau hari ke-15 menurut kalender Hijriah. Adapun waktu untuk melakukan
pemotongan kayu adalah ketika matahari menanjak naik (pagi hari), dan ketika angin sedang berhembus. Dua tanda alam itu dijadikan sebaga "ussul sebuah pengharapan agar perahu yang dibuat "rezekinya naik, lajunya kencang Muhammad Ridwan Alimuddin, 2007

4. Tata laksana
Secara garis besar, pembuatan Perahu Sandeq terdiri dari empat tahap
yaitu: tahap mempersiapkan
alat, pemotongan kayu, pembuatan calon perahu (balakang), dan pembuatan perahu. Tata laksana
pembuatan Perahu Sandeq sepenuhnya diolah dari tulisan Muhammad Ridwan Alimuddin (2007).


5. Nilai-nilai

Perahu Sandeq tidak sekedar warisan nenek moyang masyarakat Mandar, tapi ia adalah
pengejawantahan dari karakter orang Mandar itu sendiri. Oleh karenanya, jika dikaji secara seksama,
akan diketahui bahwa di dalam perahu tersebut terkandung nilai-nila
luhur yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat Mandar. Adapun nilai-nilai tersebut di antaranya adalah:
Pertama, nilai religious. Pembuatan Perahu Sandeq merupakan
salah satu bentuk ekspresi pola
keberagamaan masyarakat Mandar. Kepercayaan kepada hal-hal gaib yang menguasai suatu tempat,
melahirkan pola keberagamaan yang unik. Permohonan ijin kepada penghuni pohon, baik dengan
membawa makanan yang diletakkan di bawah pohon maupun dengan membaca doa-doa dan
Hasil gambar untuk nilai  SANDEQmembaca mantra, merupakan bentuk dari religiousitas orang Mandar. Keunikan pola keberagamaan
orang Mandar juga dapat dilihat dari
aneka macam ritual yang senantiasa dilakukan selama
pembuatan perahu dan ketika Perahu Sandeq hendak dibawa melaut. Bagi para pengkaji
keberagamaan masyarakat loka
religiositas orang Mandar nampaknya dapat menjadi bahan kajian
yang cukup menantang
Kedua, nilai budaya. Keberadaan Perahu Sandeq merupakan hasil dari cara orang-orang Mandar
merespon kondisi alam di mana mereka tinggal. Rintangan dan tantangan dari selat Mandar yang
cukup dalam dan berarus deras, disikapi oleh masyarakat dengan
membuat perahu lancip
menggunakan layar berbentuk segitiga dengan ditambahi cadik pada kanan-kirinya. Hasilnya, sebuah
perahu yang tidak saja mampu membelah lautan yang cukup ganas dengan stabil, tetapi juga melaju
dengan kencang dan berlayar hingga ke mancanegara